Makalah Bahan Kontruksi Besi ( Teknik Mesin)
PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES
MAKALAH TENTANG BAHAN KONTRUKSI
BESI
DISUSUN
OLEH :
NAMA : SUYANTO
NPM : 15320021
Dosen :
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
IBA PALEMBANG
2018
Pengertian Besi
Besi adalah logam transisi yang paling banyak dipakai karena
relatif melimpah di alam dan mudah diolah. Besi murni tidak begitu kuat, tetapi
bila dicampur dengan logam lain dan karbon didapat baja yang sangat keras. Biji
besi biasanya mengandung hematite (Fe2O3) yang dikotori
oleh pasir (SiO2) sekitar 10 %, serta sedikit senyawa sulfur,
posfor, aluminium dan mangan.
Didasarkan pada komposisi kimia, logam dan
paduan dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
·
Logam – logam besi
(ferrous)
·
Logam – logam bukan besi
(non - ferrous)
Logam – logam besi merupakan logam dan
paduan yang mengandung besi (Fe) sebagai unsur utamanya, sedangkan logam bukan
besi merupakan bahan yang mengandung sedikit atau sama sekali tanpa kadar besi.
Yang termasuk logam dan paduan besi adalah:
·
Besi tuang (cast iron)
·
Besi karbon (carbon
steel)
Dalam pemakaian teknik diperlukan
pemilihan jenis logam dan paduan dengan sifat-sifat yang sesuai dengan
kebutuhan operasi sehingga pemakaianya dapat meliputi kekutan dan ketangguhan
pada suhu rendah, suhu ruang atau suhu tinggi; kelelahan (fatigue), creep,
korosi dan oksidasi; keausan; attau sifat lainya.
Sifat-sifat tersebut sangat dipengaruhi
oleh struktur logam dan struktur yang terjadi tergantung pada komposisi kimia,
teknik/proses pembuatan serta proses perlakuan panas yang diberikan. Dalam hal
produk, di samping dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas, kualitas produk
ditentukan pula oleh faktor design (perencanaan) dan kondisi pengoperasiannya.
Baja adalah logam paduan dengan besi sebagai unsur dasar dan karbon sebagai unsur paduan utamanya. Kandungan karbon dalam baja
berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Fungsi karbon dalam
baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal
lattice) atom besi.
Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain karbon adalah mangan (manganese),
krom (chromium), vanadium, dan tungsten.
Dengan memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis
kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan karbon pada baja dapat
meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile
strength), namun di
sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).
Jenis
Baja Paduan
Berdasarkan unsur – unsur campuran dan
sifat dari baja maka baja paduan dapat digolongkan menjadi baja dengan kekuatan
tarik yang tinggi, tahan pakai, tahan karat, dan baja tahan panas
1.
Baja dengan kekuatan
tarik yang tinggi
Baja ini mengandung mangan, nikel, kromium
dan sering juga mengandung vanadium dan dapat digolongkan seperti berikut ini.
a.
Baja mangan
b.
Baja nikel
c.
Baja nikel kromium
d.
Baja kromium vanadium
2.
Baja tahan pakai
Berdasarkan
unsur – unsur campuran yang larut di dalamnya, baja terdiri dari dua macam,
yaitu baja mangan berlapis austenite dan baja kromium.
a.
Baja mangan yang berlapis
austenite
b.
Baja kromium
3.
Baja tahan karat
Baja tahan karat (stainless steel)
mempunyai seratus lebih jenis yang berbeda – beda. Akan tetapi, seluruh baja
ini mempunyai satu sifat karena mengandung kromium yang dapat membuatnya tahan
terhadap karat. Baja tahan karat ini dapat dibagi ke dalam tiga kelompok dasar,
yakni baja tahan karat berlapis ferit, berlapis austenite, dan berlapis
mertensite.
a.
Baja tahan karat ferit
b.
Baja tahan karat
austenite
c.
Baja tahan karat
mertensite
4.
Baja tahan panas
Masalah
utama yang berhubungan dengan penggunaan temperature tinggi adalah kehilangan
kekuatan, beban rangkak, serangan oksidasi, dan unsur kimia. Kekuatannya pada
temperature tinggi dapat diperbaiki dengan menaikkan temperature
transformasinya dan penambahan unsur kromium atau dengan merendahkan
temperature transformasinya dan penambahan unsur nikel.
Kedua
pengerjaan itu akan menghasilkan struktur austensite. Sejumlah kecil tambahan unsur
titanium, aluminium, molybdenum dengan karbon akan menaikkan kekuatan dan
memperbaiki ketahanannya terhadap beban rangkak. Unsur nikel akan membantu
penahanan kekuatan pada temperature tinggi dengan memperlambat atau menahan
pertumbuhan butiran – butiran yang baru. Ketahanannya terhadap oksidasi dan
serangan kimia dapat diperbaiki dengan menambahkan silicon atau kromium.
5.
Baja paduan yang
digunakan pada temperature rendah
a.
Baja pegas
b.
Baja katup mesin (motor)
Logam
Besi
Didasarkan pada komposisi kimia, logam dan
paduan dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
-
Logam-logam besi
(ferrous)
-
Logam-logam bukan besi
(non-ferrous)
Logam-logam besi merupakan logam dan paduan yang mengandung besi (Fe) sebagai
unsur utamanya, sedangkan logam bukan besi merupakan bahan yang mengandung
sedikit atau sama sekali tanpa kadar besi.
Yang termasuk logam besi,
adalah:
-
Besi tuang
(cast iron)
-
Besi karbon
(carbon steel)
-
Besi paduan
(alloy steel)
-
Baja special
(specialty steel)
Tabel pembagian besi dan
baja menurut komposisinya.
No
|
Paduan Besi dan Baja
|
Komposisi kimia (%)
|
1
|
Besi Tuang
-
Besi tuang
kelabu
-
Besi tuang potih
-
Besi tuang
noduler
-
Besi tuang
paduan
|
2-4% C, 1-3% Si, 0,8 % Mn (maks), 0,10 % P (maks),
0,05% S (maks)
Disamping terdapat perbedaan yang kecil dari segi komposisi,
perbedaan sifat-sifat besi tunag ditentukan oleh strukutur mikro karena
proses pembutan atau karena proses perlakuan panas.
Elemen-elemen pemadu: Cr, Ni
|
2
|
Baja Karbon
-
Baja karbon
rendah
-
Baja karbon
medium
-
Baja karbon
tinggi
|
0,08-0,35% C
0,25-1,50% Mn
0,35-0,50% C
0,25-0,80% Si
0,55-1,70% C
0,04% P 0,05% S
|
3
|
Baja Paduan
-
Baja paduan
rendah
-
Baja pemadu
medium
|
Seperti pada baja karbon rendah + elemen-elemen
pemadu kurang dari 4% SEPERTI Cr, Ni, Mo, Cu, Al, Ti, V, Nb, B, W, dll
Seperti pada baja paduan rendah tetapi jumlah
elemen-elemen pemadu di atas 4%
|
4
|
Baja Spesial
-
Baja Stainless
-
Baja Perkakas
|
High speed steels (0.85-1,25%C, 1,5-20% W, 4-9,5%Mo,
3-4,5% Cr, 1-4 %V, 5-12%Co)
|
Logam Besi dan
Baja
Logam besi dapat digolongkan dalam beberapa kelompok berdasarkan komposisi kimia, khususnya kadar karbon, sifat-sifat mekanis atau fisis dan tujuan penggunaannya. Proses pembuatan baja dapat dilakukan berdasarkan proses asam dan basa yang berhubungan dengan sifat kimia yang meghasilkan terak dari lapisan dapur.
Besi karbon rendah ( wrought iron) mengandung < 0,1 %C degan 1-3 % terak halus yang tersebar secara merata di dalamnya. Besi ini merupakan hasil proses pudding atau proses aston.
Pada proses aston, besi kasar dilebur dalam kupola dan dimurnikan dalam bejana bassemer. Logam murni kemudian dituang d ladel yang mengandung sejumlah terak. Karena suhu terak lebih rendah, logam cair cepat membeku, gas-gas yang larut bebas dari letupan-letupan sehingga logam pecah menjadi bagian-bagian yang kecil. Kepingan ini mengendap dan menjadi satu membentuk beji spons. Besi karbon rendah yang dihasilkan mempunyai komposisi sebagai berikut : C < 0,03 % ; Si ~ 0,13 ; S < 0,02 % ; F ~ 0,28 % dan Mn < 0,1 %
Baja
Baja merupakan paduan yang terdiri dari biji besi, karbon dan unsur lainnya. Baja dapat dibentuk melalui pengecoran, pencanaian dan penempaan. Karbon merupakan salah satu unsur terpenting karena dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja. Baja merupakan logam yang paling banyak digunakan dalam teknik, dalam bentuk pelat, lembaran , pipa, batang profil
Secara garis besar baja dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Baja karbon
Baja karbon rendah ( <0,30 %C)
Baja karbon ( 0,30 % < C < 0,70)
Baja karbon ( 0,7 < C < 1,4% )
b. Baja panduan
Baja panduan rendah (jumlah unsur panduan khusus <8%)
Baja panduan tinggi (jumlah unsur panduan khusus >8%)
Logam besi dapat digolongkan dalam beberapa kelompok berdasarkan komposisi kimia, khususnya kadar karbon, sifat-sifat mekanis atau fisis dan tujuan penggunaannya. Proses pembuatan baja dapat dilakukan berdasarkan proses asam dan basa yang berhubungan dengan sifat kimia yang meghasilkan terak dari lapisan dapur.
Besi karbon rendah ( wrought iron) mengandung < 0,1 %C degan 1-3 % terak halus yang tersebar secara merata di dalamnya. Besi ini merupakan hasil proses pudding atau proses aston.
Pada proses aston, besi kasar dilebur dalam kupola dan dimurnikan dalam bejana bassemer. Logam murni kemudian dituang d ladel yang mengandung sejumlah terak. Karena suhu terak lebih rendah, logam cair cepat membeku, gas-gas yang larut bebas dari letupan-letupan sehingga logam pecah menjadi bagian-bagian yang kecil. Kepingan ini mengendap dan menjadi satu membentuk beji spons. Besi karbon rendah yang dihasilkan mempunyai komposisi sebagai berikut : C < 0,03 % ; Si ~ 0,13 ; S < 0,02 % ; F ~ 0,28 % dan Mn < 0,1 %
Baja
Baja merupakan paduan yang terdiri dari biji besi, karbon dan unsur lainnya. Baja dapat dibentuk melalui pengecoran, pencanaian dan penempaan. Karbon merupakan salah satu unsur terpenting karena dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja. Baja merupakan logam yang paling banyak digunakan dalam teknik, dalam bentuk pelat, lembaran , pipa, batang profil
Secara garis besar baja dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Baja karbon
Baja karbon rendah ( <0,30 %C)
Baja karbon ( 0,30 % < C < 0,70)
Baja karbon ( 0,7 < C < 1,4% )
b. Baja panduan
Baja panduan rendah (jumlah unsur panduan khusus <8%)
Baja panduan tinggi (jumlah unsur panduan khusus >8%)
Baja
karbon rendah digunakan untuk kawat, baja profil, sekrup, ulir dan baut. Baja
karbon sedang digunakan untuk rel kereta api, as, roda gigi, dan suku cadang
berkekuatan tinggi, atau dengan kekerasan sampai tinggi. Baja karbon tinggi
digunakan untuk perkakas potong seperti pisau, gurd, dan bagian-bagian harus
tahan gesek.
Baja panduan yang meliputi ±15 % dari seluruh produksi baja, mempunyai kegunaan khusus karena sifatnya yang unggul dibandingkan baja karbon.
Pada umumnya baja panduan memiliki:
1. Keuletan yang tinggi tanpa pengurangan kekuatan tarik
2. Kemampuan kerasan sewaktu dicelup dalam minyak atau udara , dan dengan demikian kemungkinan retak atau distorsinya kurang.
3. Tahan terhadap korosi dan keausan
4. Tahan terhadap perubahan suhu
5. Memiliki sifat-sifat metalurgi Seperti butir halus.
Baja panduan yang meliputi ±15 % dari seluruh produksi baja, mempunyai kegunaan khusus karena sifatnya yang unggul dibandingkan baja karbon.
Pada umumnya baja panduan memiliki:
1. Keuletan yang tinggi tanpa pengurangan kekuatan tarik
2. Kemampuan kerasan sewaktu dicelup dalam minyak atau udara , dan dengan demikian kemungkinan retak atau distorsinya kurang.
3. Tahan terhadap korosi dan keausan
4. Tahan terhadap perubahan suhu
5. Memiliki sifat-sifat metalurgi Seperti butir halus.
Besi cor
Besi
cor adalah paduan besi-karbon-silika dengan unsur tambahan lain. Kadar karbon tinggi
sehingga besi cor bersifat rapuh dan tidak dapt di tempa. Besi cor memiliki
sifat fisis atau mekanik yang berbeda-beda, ha ini dipengaruhi oleh unsur
paduan yang terdapat didalamnya seperti karbon, silikon, mangan, fosfor dan
belerang. Kekuatan, kekerasan, kemampuan mesin, ketahanan aus, dan lain
sebagainya dilebur kembali dalam dapur kupola. Besi kasar yang dihasilkan oleh
tanur tinggi tidak cocok untuk benda coran dan dilebur kembali dalam dapur
kupola.
Jenis-jenis
Besi Cor
-
Besi cor kelabu
-
Besi cor putih
-
Besi cor mampu tempa
-
Besi cor nodular
Besi
cor kelabu disebut begitu oleh karena petahannya bewarna Keabu - abuan. Karbon
yang terdapat berbentuk serpihan grafit,
kekuatan tarik besi cor kelabu berkisar antara 140 sampai 415 Mpa akan tetapi
keuletannya sangat rendah. Komposisinya adalah sebagai berikut :
Unsur
|
Kadar (% berat)
|
Karbon (C)
|
3,00 – 3,50
|
Silikon (Si)
|
1,00 – 2,75
|
Mangan (Mn)
|
0,40 – 1,00
|
Fosfor (P)
|
0,15 – 1,00
|
Belerang (S)
|
0,02 – 0,15
|
Besi (Fe)
|
Sisanya
|
Besi cor putih mempunyai bidang
perpatahan yang putih warnanya, karbon disini terikat sebagai karbida, Fe3C, Fe3C
atau karbida bersifat keras, sehingga besi cor putih yang banyak mengandung
karbida sulit di mesin. Besi cor putih dibuat dengan cara menuangkan besi cair
ke dalam cetakan logam dan dengan mengatur komposisi kimianya. Pendingin cepat
atau chill diterapkan bila dikehendaki suatu permukaan yang tahan aus seperti
roda kereta api, rol untuk menggerus dan pelat penghancur batu.
Besi
cor mampu tempa mempunyai kekuatan tarik sekitar 380 Mpa dengan perpanjangan 18
%. Benda cor mampu tempa mempunyai daya tahan terhadap kejutan dan mudah
dimesin; banyak digunakan dalam industry perkeretaapian, industry kendaraan
bermotor, sambungan pipa dan industry pertanian.
Besi
cor nodular adalah jenis besi cor mampu tempa yang kuat dan ulet. Karbon yang
terdapat berbentuk nodul grafit yang diperoleh dengan menambahkan bahan yang
mengandung magnesium seperti nikel – magnesium atau magnesium yang mengandung
tembaga – ferro silicon dalam besi cor kelabu cair. Jumlah magnesium yang
diperlukan tergantung pada kadar belerang yang ada. Mula – mula kadar belerang
diturunkan dengan cara mengubahnya menjadi sulfide magnesium. Sisa magnesium
yang ada dapat mengubah bentuk grafit menjadi bentuk hhhnodular. Besi cor
nodular umumnya digunakan dalam kondisi tuang (as - cast); meskipun demikian
untuk meningkatkan sifat – sifat tertentu dari benda cor, benda cor dapat
dianil sebentar. Waktu anil yang diperlukan jauh lebih singkat dibandingkan dengan
waktu anil besi cor mampu tempa. Karena mutu besi cor nodular jauh lebih baik,
bahan ini dapat digunakan untuk membuat proses engkol dan berbagai suku cadang
mesin lainnya.
Pengaruh Unsur
Kimia dalam Besi Cor
Besi yang mengandung >2% karbon
termasuk kelompok besi cor. Besi cor kelabu mengandung 3 – 4 % karbon. Kadar
karbon tergantung pada jenis besi kasar, besi bekas dan karbon yang diserap
yang berasal dari kokas selama proses peleburan. Sifat fisik logam, selain
tergantung pada jumlah kadar karbon, tergantung pula pada bentuk karbon
tersebut. Morfologi grafit tergantung pada laju pendinginan dan kadar silicon.
Kadar silicon yang tinggi memperbesar kemungkinan terbentuknya grafit. Grafit
meningkatkan kemampuan pemesinan. Kekerasan dan kekuatan besi meningkat dengan
bertambahnya kadar karbon. Sifat besi cor dapat diubah melalui perlakuan panas.
a. Silikon
Silicon
sampai kadar 3,25% bersifat menurunkan kekuatan besi. Kadar silicon menentukan
berapa bagian dari karbon terikat dengan besi dan beberapa bagian berbentuk
granit (atau karbon bebas) setelah tercapai keadaan seimbang. Kelebihan silicon
membentuk ikatan yang keras dengan besi, sehingga dapat dikatakan bahwa silicon
di atas 3,25% akan meningkatkan kekerasan.
Untuk
benda coran yang kecil dianjurkan untuk menggunakan kadar silicon yang tinggi
dan untuk benda coran yang besar dianjurkan untuk menggunakan kadar yang lebih
rendah. Untuk memperoleh paduan yang tahan asam dan tahan korosi sebaiknya
kadar silicon = 13 sampai 17 %. Besi tuang kelabu berkadar silicon rendah mudah
untuk perlakuan panas. Silicon yang mungkin hilang selama proses peleburan
berjumlah ± 10%.
b. Mangan
Dalam jumlah rendah, tidak seberapa
pengaruhnya, dalam jumlah di atas 0,5%, mangan bereaksi dengan belerang
membentuk sulfide mangan. Ikatan ini rendah bobot jenisnya dan dapat larut
dalam terak. Mangan merupakan unsure deoksidasi, pemurnian sekaligus
meningkatkan fluiditas, kekuatan dan kekerasan besi. Bila kadar ditingkatkan,
kemungkinan terbentuknya ikatan kompleks dengan karbon meningkat dan kekerasa
besi cor akan naik. Mangan yang hilang selama proses peleburan berkisar antara
10 – 20 %.
c. Belerang
Belerang sangat merugikan, oleh karena itu
selama proses peleburan selalu diusahakan untuk mengikat belerang tersebut,
antara lain dengan menambahkan ferro – mangan. Belerang yang menyebabkan
terjadinya lubang – lubang (blowholes) membentuk ikatan dengan karbon dan
menurunkan fluiditas sehingga mengurangi kemampuan ikatan dengan karbon dan
menurunkan fluiditas sehingga mengurangi kemampuan tuang besi cor. Setiap kali
kita melebur besi cor, kadar belerang meningkat sebesat 0,03%, belerang ini
berasal dari bahan bakar.
d. Fosfor
Fosfor dapat meningkatkan fluiditas logam
cair dan menurunkan titik cair. Oleh karena itu biasa digunakan faktor sampai
1% dalam benda cor kecil dan benda cor yang mempunyai bagian – bagian yang
tipis. Benda cor besar tidak memerlukan kadar fosfor yang tinggi karena tidak
diperlukan fluiditas tambahan. Sewaktu peleburan umumnya terjadi peningkatan
kadar fosfor sampai 0,02%. Unsur fosfor sulit beroksidasi kecuali bila dipenuhi
beberapa persyaratan tertentu. Untuk mengendalikan kadar fosfor, perlu dipilih
grade besi bekas yang tepat.
Fosfor juga membentuk ikatan yang dikenal
dengan nama steadit, yaitu campuran antara besi dan fosfida, ikatan ini keras,
rapuh dan mempunyai titik cair yang lebih rendah. Steadit mengandung fosfor
sebanyak 10%. Dengan demikian besi dengan 0,50% fosfor akan mengandung sekitar
5% (volume) steadit.
Jenis Baja Paduan
Berdasarkan unsur – unsur campuran dan
sifat dari baja maka baja paduan dapat digolongkan menjadi baja dengan kekuatan
tarik yang tinggi, tahan pakai, tahan karat, dan baja tahan panas
1. Baja dengan
kekuatan tarik yang tinggi
Baja ini mengandung mangan, nikel, kromium
dan sering juga mengandung vanadium dan dapat digolongkan seperti berikut ini.
a.
Baja mangan
Baja ini
mengandung 0,35% dan 1,5% Mn dan baja ini termasuk baja murah tetapi
kekuatannya baik. Baja ini dapat didinginkan dengan minyak karena mengandung
unsur mangan sehingga temperatur pengerasannya rendah dan menambah kekuatan
struktur feritnya.
b.
Baja nikel
Baja ini
mengandung 0,3% C, 3% Ni, dan 0,6% Mn serta mempunyai kekuatan dan kekerasan
yang baik, dapat didinginkan dengan minyak karena mengandung unsur nikel yang
membuat temperature pengerasannya rendah. Baja ini digunakan untuk proses
engkol, batang penggerak, dan pengguna lainnya yang hampir sama.
c.
Baja nikel kromium
Baja ini mempunyai
sifat yang keras berhubungan dengan campuran unsure kromium dan sifat yang liat
berhubungan dengan campuran unsur nikel. Baja yang mengandung 0,3% C, 4,35% Ni,
1,25% Cr, dan 0,5% Mn (mengandung nikel dan kromium yang tinggi), mempunyai
kecepatan pendinginan yang rendah sehingga pendinginan dapat dilakukan dalam
hembusan udara dan distorsi diperkecil. Apabila unsur krom dicampur sendiri
kedalam baja akan menyebabkan kecepatan pendinginan kritis yang amat rendah,
tetapi bila dicampur dengan bersama nikel akan diperoleh baja yang bersifat
liat. Jenis baja tersebut digunakan
untuk poros engkol dan batang penggerak. Baja nikel kromium menjadi rapuh apabila distemper atau disepuh pada
temperature 250 – 400 0C, juga kerapuhannya tergantung pada
komposisinya, proses ini dikenal dengan nama “menemper kerapuhan” dan baja ini
dapat diperiksa dengan penyelidikan pukul tarik. Penambahan sekitar 0,3%
molibden akan mencegah kerapuhan karena distemper, juga akan mengurangi
pengaruh yang menyeluruh terhadap baja karena molibden adalah unsur berbentuk
karbid.
d.
Baja kromium vanadium
Jika baja ini
ditambahkan sekitar 0,5% vanadium sehingga dapat memperbaiki ketahanan baja
kromium terhadap guncangan atau getaran dan membuatnya dapat ditempa dan
ditumbuk dengan mudah, apabila vanadium menggantikan nikel maka baja lebih
cenderung mempengaruhi sifat – sifatnya secara menyeluruh.
2
tahan pakai
Berdasarkan
unsur – unsur campuran yang larut di dalamnya, baja terdiri dari dua macam,
yaitu baja mangan berlapis austenite dan baja kromium.
a.
Baja mangan yang berlapis
austenite
Baja ini pada
dasarnya mengandung 1,2% C, 12,5% Mn, dan 0,75% Si. Selain itu juga mengandung
unsur – unsur berbentuk karbit seperti kromium atau vanadium yang kekuatannya
lebih baik.
b.
Baja kromium
Jenis ini
mengandung 1% C, 1,4% Cr, dan 0,45% Mn. Apabila baja ini mengandung unsur
karbon tinggi yang bercampur bersama – sama dengan kromium akan menghasilkan
kekerasan yang tinggi sebagai hasil dari pendinginan dengan minyak. Baja ini
digunakan untuk peluru – peluru bulat dan perlatan penggilingan padi.
3Baja
tahan karat
Baja tahan karat (stainless steel) mempunyai
seratus lebih jenis yang berbeda – beda. Akan tetapi, seluruh baja ini
mempunyai satu sifat karena mengandung kromium yang dapat membuatnya tahan
terhadap karat. Baja tahan karat ini dapat dibagi ke dalam tiga kelompok dasar,
yakni baja tahan karat berlapis ferit, berlapis austenite, dan berlapis
mertensite.
a. Baja tahan karat
ferit
Baja ini
mengandung unsur karbon yang rendah (sekitar 0,04% C) dan sebagian besar
dilarutkan di dalam besi. Sementara itu, unsur lainnya yaitu kromium sekitar13%
- 20% dan tambahan kromium tergantung pada tingkat ketahanan karat yang
diperlukan. Baja ini tidak dapat dikeraskan dengan cara disepuh. Baja ini
seringkali disebut besi tahan karat dan cocok untuk dipres, ditarik, dan
dipuntir. Baja ini mengandung 13% kromium digunakan untuk garpu dan sendok,
sedangkan yang mengandung 20% kromium untuk tabung sinar katoda.
b. Baja tahan karat
austenite
Baja tahan karat
austenite mengandung nikel dan kromium yang amat tinggi, nikel akan membuat
temperature transformasinya rendah, sedangkan kromium akan membuat kecepatan
pendinginan kritisnya rendah. Campuran kedua unsur itu menghasilkan struktur
lapisan austenite pada temperature kamar. Baja ini tidak dapat dikeraskan
melalui perlakuan panas, tetap dapat disepuh keras. Pengerjaan dan penyepuhan
tersebut membuat baja sukar dikerjakan dengan mesin perkakas. Seperti baja
austenite yang lain, baja tahan karat austenite tidak magnetis.
Baja tahan karat
yang mengandung 0,15% C, 8,5% Ni, dan 0,8% Mn sesuai untuk digunakan sebagai
alat – alat rumah tangga dan dekoratif. Baja tahan karat yang mengandung 0,05%
C, 18,55% Cr, 10% Ni, dan 0,8% Mn, baik untuk dikerjakan dengan cara penarikan
dalam karena kandungan karbonnya rendah. Baja tahan karat yang mengandung 0,3%
C, 21% Cr, 9% Ni, dan 0,7% Mn sesuai untuk dituang.
Kebanyakan baja
tahan karat austensite mengandung sekitar 18% kromium dan 8% nikel. proporsi
unsur kromium dan nikel sedikit berbeda dengan penambahan dalam proporsi yang
kecil dari unsure molybdenum, titanium, dan tembaga untuk menghasilkan sifat –
sifat yang special. Baja dalam kelompok ini digunakan apabila diperlukannya
ketahanan terhadap panas.
c. Baja tahan karat
mertensite
Baja tahan karat
mertensit mengandung sejumlah besar unsur karbon dan dapat dikeraskan melalui
perlakuan panas, juga mempengaruhi sifat – sifatnya melalui pengerasan dan
penyepuhan. Baja yang mengandung 0,1% C, 13% Cr, dan 0,5% Mn ini dapat
didinginkan untuk memperbaiki kekuatannya, tetapi tidak menambah kekerasan.
Baja ini seringkali disebut besi tahan karat dan digunakan khususnya untuk
peralatan gas turbin dan pekerjaan dekoratif.
1. Baja tahan panas
Masalah
utama yang berhubungan dengan penggunaan temperature tinggi adalah kehilangan
kekuatan, beban rangkak, serangan oksidasi, dan unsur kimia. Kekuatannya pada
temperature tinggi dapat diperbaiki dengan menaikkan temperature
transformasinya dan penambahan unsur kromium atau dengan merendahkan
temperature transformasinya dan penambahan unsur nikel.
Kedua
pengerjaan itu akan menghasilkan struktur austensite. Sejumlah kecil tambahan
unsur titanium, aluminium, molybdenum dengan karbon akan menaikkan kekuatan dan
memperbaiki ketahanannya terhadap beban rangkak. Unsur nikel akan membantu
penahanan kekuatan pada temperature tinggi dengan memperlambat atau menahan
pertumbuhan butiran – butiran yang baru. Ketahanannya terhadap oksidasi dan
serangan kimia dapat diperbaiki dengan menambahkan silicon atau kromium.
0 Response to "Makalah Bahan Kontruksi Besi ( Teknik Mesin)"
Post a Comment